gravatar

Penyakit, Musibah dan Perahu Kesabaran

Oleh ARDA DINATA

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa inna Ilaihi raji’un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. (QS. Al-Baqarah: 155-156)


BERBAGAI penyakit terkait dengan kondisi kesehatan lingkungan yang rendah, dewasa ini masih mendera masyarakat Indonesia, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), kusta, filariasis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan lainnya. Kondisi rendahnya kualitas kesehatan lingkungan itu, tidak saja mendatangkan jatuhnya banyak korban karena serangan penyakit tersebut, tapi bahkan telah mendatangkan (musibah) bencana alam (seperti longsor, banjir, pencemaran lingkungan, dll).

Adanya fenomena alam seperti itu, kita selaku umat beragama tentu harus merenungi, sikapi dan maknai secara benar. Ada hikmah apa dibalik segala “musibah” dan kejadian tersebut. sehingga dengan pola pikir seperti ini, kita dapat berbuat lebih baik lagi dan menyikapi alam semesta ini dengan benar lagi bijaksana.

Berbicara musibah, dalam khazanah keilmuan Islam disebutkan kalau musibah itu sebenarnya ada dua macam. Pertama, musibah yang di luar pilihan manusia. Contohnya adanya penyakit yang menimpa seseorang atau terjadinya kefakiran. Sedangkan terkait posisi manusia dalam menghadapi musibah macam ini, Dr. Akrim Ridha membaginya menjadi empat macam. (1) Ada manusia yang lemah sehingga ia tampak gundah dan sedih, serta ia suka mengaduh dan sedih, serta ia suka mengaduh bahkan merasa tidak suka atau benci; (2) ada yang sabar; (3) yang lebih tinggi dari bersabar adalah ridha atau menerima; (4) bahkan ada juga yang syukur, dan ini merupakan makom (kedudukan) yang paling tinggi.

Kategori musibah kedua, adalah musibah yang mengenai seseorang karena perlakuan orang lain. Contohnya perbuatan zalim, merampas harta, atau mencela. Sementara itu, terkait kedudukan manusia ketika menghadapi musibah kategori ini, dalam bahasa Akrim Ridha, selain kedudukan seperti kategori sebelumnya, juga ditambah dengan kedudukan berikut: (1) memaafkan; (2) kalbunya bersih dari keinginan balas dendam; (3) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya; (4) berusaha untuk menghadapi pelbagai aspek yang menjadi sebab timbulnya musibah dan menghilangkannya, di samping berusaha maksimal untuk bangkit dari keterpurukan dan kegagalan. Terkait dengan hal itu, pantas saja para psikolog berkata: ”Keluh kesah (gundah) itu karib dan saudaranya sikap lemah (loyo), sedangkan sabar itu saudara kandung dan sahabat terdekatnya kecerdasan dan akal.”

* *

SESUNGGUHNYA kalau kita mau jujur, kedudukan “berusaha” dalam menghadapi segala kejadian dalam hidup manusia (terjadi penyakit, musibah, dll.) merupakan sikap yang harus tertanam dalam tindakan hidup seorang muslim. Sebab, makom “berusaha” inilah yang menghimpun semua makom atau posisi-posisi sebelumnya serta berlaku dan berguna untuk semuanya, bahkan semua posisi itu ditentukan oleh adanya usaha.

Pada tataran berusaha inilah, manusia harus dibekali dengan “perahu kesabaran”. Kata sabar itu sendiri berasal dari bahasa Arab shabara. Huruf yang membentuknya, yaitu shad, ba’, dan ra’. Adapun makna asalnya berarti berusaha menahan diri dan melatihnya. Dalam hal ini, Ibn Al Qayyim menyatakan: “Dalam kata sabar itu dikandung tiga makna, yaitu menahan, tegar, dan menggabungkan.”

Dengan demikian, sabar bagi manusia bukan berarti pasrah. Sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Kata lainnya, kesabaran itu merupakan proses aktif, gabungan antara ridha dan ikhtiar. Jadi, kesabaran bukan proses diam dan pasif, melainkan proses aktif baik akal, tubuh dan iman dalam hati manusia. Justru, dari musibah yang disikapi dengan sabarlah akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.

Lebih jauh lagi diungkapkan dalam kamus bahasa Arab, makna kesabaran itu ada tiga. (1) Sabar adalah al man’u wa al habsu, mencegah dan menahan. Yakni mencegah jiwa supaya tidak gundah, dan menahan lidah supaya tidak suka mengadu. (2) Sabar berarti tegar dan kuat. Shubru, di mana kata shad­-nya didammahkan, berarti tanah yang sangat tegar dan subur. Obat yang dikenal sangat pahit disebut shabir, sedangkan pohonnya adalah shabar. Seorang penyair pernah mengatakan: “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”

(3) Ash-shabr, juga berarti al jam’u wa al dhamm. Artinya menghimpun dan menggabungkan. Arti lainnya, orang yang bersabar adalah orang yang mampu untuk menghimpun potensi dirinya, sehingga tidak gampang sedih dan keluh kesah.

Secara demikian, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup manusia. Adapun langkah strategis yang akan membantu kesabaran itu, kata Ibn Al Qayyim, tiang penyangganya adalah ilmu dan amal. Ilmu adalah pengenal terhadap segala akibat dari berbagai hal bila dilakukan dan menimbang kelebihannya bila ditinggalkan. Sedangkan amal adalah keinginan kuat atau ambisi yang benar dan semangat yang tinggi.

Terkait dengan kesabaran tersebut, almarhum Prof. KH. Anwar Musaddad, pernah menulis bahwa wilayah sabar itu ada empat, yaitu (1) dalam taat –lakukanlah--; (2) dalam maksiat –jauhilah--; (3) menghadapi musibah –tahanlah dirimu dan terimalah itu sebagai ujian dari Allah--; dan (4) sabar dalam berjihad.

Akhirnya, harus kita tanamkan bahwa “perahu kesabaran” itu bukanlah suatu kehinaan dan bukan pula ridha dengan kezaliman. Justru, sesungguhnya kesabaran itu merupakan suatu potensi yang memberikan dorongan kuat untuk mengembalikan kebenaran dan melakukan usaha untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar. Amin. Wallahu a’lam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

gravatar

Sikap Manusia Dalam Mementaskan Hidup

Oleh ARDA DINATA

Biarkan hari-hari bertingkah semaunya. Buatlah diri ini rela ketika ketentuan-Nya bicara. Dan jangan gelisah dengan kisah malam. Tidak ada kisah dunia ini yang abadi. (Imam Syafi’i).

UNGKAPAN imam syafi’i tersebut, paling tidak merupakan obat penghilang kegelisahan hari-hari yang kita jalani. Memang, dunia ini bukan milik kita. Dunia ini milik Allah semata-mata. Dia yang berkehendak lagi punya ketetapan. Sehingga siapa pun orangnya tidak berhak “bertanya” mengapa Allah memutuskan ini dan itu terhadap kita. Namun, yang jelas justru kitalah yang kelak akan ditanya.

Untuk itu, dalam mementaskan hidup, kita hanya berusaha untuk menyambungkan ikhtiar demi ikhtiar. Membentangkan rangkaian usaha maksimal kita. Di sini, perlu digaris bawahi bahwa pada ujung usaha dan puncak ikhtiar itu tidak lantas mesti langsung berhubungan dengan keberhasilan yang diusahakan.

Artinya, apa pun kehendak Allah bagi seorang mukmin selalu baik. Apa pun wujud kehendak itu, baik yang menyenangkan (tentu baik untuk kita). Tapi, tidak sebatas itu, kehendak-Nya yang terlihat tidak menguntungkan pun ternyata ada kebaikan yang Allah “paksakan” bagi diri kita. Sebab, bukankah hanya Dia yang mengetahui sesuatu yang terbaik buat kita?

Pokoknya, hidup adalah pilihan. Keberadaan nilai hidup itu sendiri sesungguhnya yang mengantarkan pilihan menjadi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Permasalahannya ada pada bagaimana kita memandang dan menilai hidup itu. Bila hidup itu dipandang sebagai fase satu-satunya yang sementara bagi manusia sebelum memasuki dunia akhirat, maka otomatis pilihan apapun dalam hidup ini menjadi penting dan menentukan.

Untuk itu, agar kita tidak salah memilih dalam mementaskan hidup, berikut ini ada tujuh langkah yang dapat kita lakukan. Pertama, pelihara lintasan pikiran untuk tetap mengarah pada kebaikan. Lintasan pikiran adalah tangga pertama yang akan mengantarkan seseorang pada niat dan sikap. Dalam tahap ini semua orang akan mengalaminya (lintasan pikiran baik maupun yang buruk). Jika hanya sebatas lintasan berbuat buruk, itu wajar dan manusiawi. Allah SWT juga tidak mencatat hal itu sebagai suatu dosa. Namun bila kurang waspada, lintasan hati itu kerap berkembang menuju tahapan dialog batin (baca: dialog antara keinginan melakukan kebaikan atau keburukan). Terjadilah benturan antara bisikan setan untuk melakukan keburukan dengan bisikan malaikat dan akal sehat untuk tidak melakukan keburukan. Bila dalam benturan ini, nafsu keburukan dan bisikan setan yang menang, maka muncullah niat.

Kedua, pertimbangan suatu pilihan dengan ilmu. Menentukan suatu pilihan pasti dengan timbangan informasi dan pengetahuan yang kita miliki. Informasi yang keliru atau minimnya pengetahuan akan membawa kita pada pilihan yang salah. Setidaknya, kita harus mengetahui kategori kesalahan yang termasuk dosa besar dan dosa kecil.

Ibnu Quddamah dalam Minhajul Qashidin mengutip uraian tentang dosa besar yang disebutkan oleh Abu Thalib Al Makky. Katanya, “Dosa-dosa besar itu ada tujuh belas. Saya menghimpunnya dari sejumlah atsar. Empat macam ada di dalam hati, yaitu: syirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari tipu daya Allah. Empat macam ada di lidah, yaitu: kesaksian palsu, menuduh wanita yang baik-baik, minum khamar, makan harta anak yatim dengan zalim dan memakan riba. Dua macam ada di kemaluan yaitu zina dan seks dengan sejenis. Dua macam ada di tangan yaitu membunuh dan mencuri. Satu macam ada di kaki yaitu melarikan diri saat pertempuran. Satu macam ada di seluruh badan yaitu durhaka pada orangtua.”

Ketiga, berdoa memohon petunjuk Allah. Permohonan petunjuk Allah saat kita memilih, adalah bukti dan cermin suasana iman yang sangat mempercayainya, membutuhkan, dan mengakui keagungan dan kuasa Allah dalam segala hal. Manusia sering keliru menentukan pilihan yang menurutnya baik. Ternyata di kemudian hari pilihan itu justru menjadi awal bencana baginya. Kita kadang menilai negatif, antipati, menolak sesuatu berdasarkan logika, pikiran yang terbatas. Tapi, ternyata hal itu justru mendatangkan manfaat yang sangat luar biasa untuk Allah. Allah berfirman, “Bisa jadi engkau membenci sesuatu padahal sesuatu yang engkau benci itu baik bagimu. Bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu yang engkau sukai itu tidak baik bagimu.”

Keempat, tumbuh dan pelihara perasaan takut pada Allah SWT. Rasa aman akan azab dari Allah juga dapat menyebabkan seseorang lalai dengan dosa, memudah-mudahkan kesalahan dan menunda-nunda pekerjaan baik, hingga akhirnya tenggelam dalam kemaksiatan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan seksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 97-99).

Kelima, sadari bahwa hidup ini hanya sementara. Pilihan dalam hidup sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang hidup. Panjang angan-angan, menumpuk mimpi, terlalu berobsesi pada kehidupan dunia, akan membawa orang lupa bahwa hidup ini sementara. Kondisi inilah yang akan menjadikan orang tidak mampu memandang secara benar dalam memilih.

Keenam, tanamkan kekhawatiran su’ul khatimah. Takut dan khawatir itu bermacam-macam. Ada orang yang dalam hatinya dominan rasa takut terhadap kematian sebelum bertaubat. Ada orang yang merasa lebih takut condong pada kenikmatan dan beralih dari sikap istiqomah. Ada yang takut terhadap akhir hidup yang buruk. Yang paling tinggi adalah yang terakhir. Di antara orang yang takut adalah orang yang takut sakratul maut dan kepedihannya atau pertanyaan malaikat mungkar dan nakir. Takut meniti shirat, takut neraka dan kobarannya, takut tidak bisa masuk surga.

Ketujuh, renungi pilihan-pilihan yang lalu. Bukan untuk sekedar merenung, menyesal dan kemudian melemparkan kesalahan pada nasib. Bukan juga untuk mengatakan, kenapa tidak begini, kenapa begitu. Perenungan yang kemudian membuka celah kata-kata jika begini, seandainya begitu, sama dengan membuka celah setan untuk menyesali hidup, merasa sangat bersalah dan bersikap putus asa. Sikap seperti itu tidak ada gunanya dan dilarang. Rasulullah dalam sebuah hadis mengingatkan bahwa perkataan “jika dan seandainya” itu adalah pintu bagi setan untuk mengganggu manusia.

Akhirnya, semoga langkah-langkah penting tersebut dapat dilakukan dengan benar sehingga kita dapat mengarungi hidup yang penuh kegelapan ini. Dan pastikanlah usaha maupun sikap kita selaku manusia dalam mementaskan hidup ini diberi kesempatan untuk menjadi yang lebih baik oleh Allah SWT. Amin. Wallahu a’lam.***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Selamat Menikmati Tulisan-Tulisan Yang Penuh Inspirasi, Ilmu, Motivasi dan Amal Yang Bikin Hidup Anda Sukses Secara Islami di Blog Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [MIQRA] INDONESIA. Blog Ini Didirikan oleh ARDA DINATA, Seorang Penulis Merdeka. Salam SUKSES....dari MIQRA Indonesia!!!


| ILMU MENJADI KAYA |

AMBIL Sebelum KEHABISAN....!!!
ADA Ebook GRATIS di Bawah Ini:
1. Miliki HARTA KARUN Bagi PENULIS

2. Cara SUKSES Nampang dI INTERNET

3. Cara SUKSES Kirim 100-an Email Sekali klik

4. Cara GAMPANG NERBITIN BUKU OK

5. Asiknya Bikin TULISAN Chicken Soup for the Soul dan Kiat Membuat TULISAN YANG MENARIK





Assalamu'alaikum wr wb
Selamat datang di MIQRA INDONESIA GROUP. Sumber Inspirasi, Motivasi, Ilmu dan Amal untuk ke-SUKSES-an hidup Anda di dunia akhirat.
Ayo Gabung Dengan Komunitas Pembaca MIQRA INDONESIA GROUP
Dapatkan Hadiah Ebook:
”ILMU MENJADI KAYA”

Setelah Anda bergabung dengan Mailing List MIQRA INDONESIA GROUP.